Catatan Kecil M Alfan Alfian*
Dalam sebuah majalah mingguan terpetik perkataan dari seorang sastrawan Eropa, bahwa kalau aku punya uang, maka yang akan aku belikan pertama kali adalah buku, baru setelah itu makanan dan pakaian. Bagi sebagian besar di antara kita perkataan tersebut dianggap aneh, justru ketika buku didudukkan sebagai barang primer. Barangkali ia, sastrawan yang “kurang waras” kalau ia rela tidak makan dan berpakaian compang-camping, tapi di rumahnya dipenuhi buku.
Dalam tingkatan tertentu, walaupun tidak seekstrem itu, saya pernah mengalaminya. Bahwa dulu waktu saya kuliah saya sering memaksakan diri membeli buku. Suatu saat uang saya habis gara-gara kebiasaan itu. Saya lapar dan hanya bisa memandangi tumpukan buku-buku dan majalah-majalah yang terserak-serak di meja kamar kos saya. Tapi saya tak kekurangan akal. Saya datang ke kos teman saya dengan sepeda (bukan motor). Kos teman saya itu di Dinoyo Malang. Mungkin karena saya terlalu “Jawa”, maka sesampai di sana saya tak langsung minta makan, kecuali teman saya mengajak. Tapi, ketika hari semakin siang hingga sore dan menjelang senja, kok teman saya itu tak menawar-nawari makanan. Ternyata, hmmm teman saya itu puasa. Posisi saya jadi serba tanggung: puasa tidak, lapar iya. Padahal persoalannya sederhana saja, seandainya saya bilang saya lapar dan tolong saya dibantu makanan, maka persoalan selesai. Tapi bagaimana kalau teman saya pun juga lagi bokek?
Kebiasaan saya itu berlanjut sampai sekarang. Saya gila buku apa saja, sehingga memang itulah kekayaan saya. Suatu saat rumah saya di Jatibening kebanjiran. Ribuan buku saya tenggelam. File-file komputer saya juga hilang. Saya geleng-geleng kepala tak menyangka banjir sebesar itu. Serangan air bah itu datang pukul 10 malam ketika saya sedang di tengah jalan, sementara yang di rumah terlelap dan baru sadar setelah airnya meninggi. Ketika air surut, walaupun kemudian datang lagi, saya memandangi buku-buku saya yang terbalur lumpur tebal. Benak saya membayangkjan kisah ketika perpustakaan Islam di Baghdad diangkut buku-bukunya oleh tentara Tartar (Barbar) dari Mongol dan membuangnya ke sungai Eufrat sehingga airnya berubah menjadi hitam karena tinta-tintanya. Peradaban besar tenggelam, ketika ribuan buku hancur, dihancurkan.
Tapi kisah banjir itu seolah menampar pipi saya, maksudnya agar saya memperlakukan buku-buku saya untuk sebesar-besarnya kepentingan saya sebagai penulis. Ya, saya harus menulis buku, dan agar kelak buku-buku saya turut menghiasi rak-rak buku di perpustakaan-perpustakaan kita. Harus saya akui tidak mungkin saya membaca semua buku saya itu secara tuntas, namun cukuplah buku-buku saya itu memberi inspirasi, sebagai gudang ide. Ketika buku-buku saya hanyut maka saya sedih karena banyak ide yang hanyut pula, walaupun saya menemukan buku bagus yang saya baca ketika memungut yang penuh lumpur itu, dan saya menemukan ide baru, semangat baru.
Dan, alhamdulillah, Mei ini buku saya terbit. Judulnya “Menjadi Pemimpin Politik” (Gramedia, 2009). Referensinya lebih dari tiga rak buku. Semua buku saya memberi kontribusi, inspirasi, tak hanya garis besar atau sebagian isinya, bahkan hanya sekedar judul dan kavernya. Atau, nama besar pengarangnya.
Sungguh, tak rugi Anda membeli buku. Buku adalah jendela dunia. Buku, sebagaimana pengertian buku cetak, masih penting untuk kita miliki, walaupun zaman kita sudah sedemikian maju dimana ada bentuk buku yang nirkertas alias e-book. Kita masih enak membaca buku cetak yang kita sukai, sambil ongkang-ongkang sembari menyeruput secangkir kopi atau teh. Pertanyaan saya: berapa buku yang Anda miliki? Berapa persennya yang sempat dibaca dan setidaknya memberi inspirasi? Sudahkah buku Anda jadikan “teman hidup”? Sebagian dari kita mungkin langsung angkat tangan dan meneriakkan satu kata, “belum”….
(*M Alfan Alfian, FISIP Universitas Nasional, Jakarta)