<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –> ”Proses pembangunan harus senantiasa proporsional antara di wilayah laut dan daratan,”. Pesan Gubernur Sulawesi Utara Drs SH Sarundajang kepada peserta Muspimnas PMII, Kamis, 10 Desember 2009.

Reformulasi Tata Kaderisasi; Reformasi Tata Institusi

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Calibri; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-alt:”Times New Roman”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:auto; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Pristina; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-alt:”Times New Roman”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:auto; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} a:link, span.MsoHyperlink {color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Calibri; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-alt:”Times New Roman”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:auto; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –> Positioning Paper PKC PMII DKI Jakarta

Disorientasi Tanpa Orientasi

Kapal besar PMII yang dinahkodai oleh sahabat M. Rodli Kaelani telah lebih setengah masa kepengurusannya berjalan. Selama itu pula, banyak tanggapan minor yang berdesing di antara kuping kader, pengurus di bawah PB, hingga alumni. Singkatnya, nyaris kita menempatkan PB PMII dalam posisi yang dipersalahkan karena kegagalan dalam memahami dan menyikapi alur perubahan di negeri ini. Memang terasa amat sulit sulit dan menilai dari kacamata objektif mengingat tidak adanya indikator yang cukup pasti dan menjadi standar penilaian yang sama. Dan jika pun ada, maka kita cenderung menjadi sangat positivis dan menjadi sangat kaku. Read the rest of this entry »

Muspim, PMII Sorot 117 Triliun Dana Selat Sunda

Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bakal dilaksanakan pekan depan di Manado, Sulawesi Utara. Momentum musyawarah tertinggi kedua PMII ini tepatnya akan digelar pada 9-14 Desember mendatang besok di Balai Diklat Diknas Provinsi di Kecamatan Pineleng, Manado.

Anggota Sterring Committee Muspimnas, Naeni Aamanullah mengatakan, sebagaimana rencana sedianya acara ini akan dibuka secara lansung oleh presiden Susilo Bambang Yudoyono. Namun karena berhalangan berkait dengan tugas-tugas kenegaraan, pembukaan diwakilkan kepada gubernur Sulawesi Utara, SH Sarundajang.

Ketua PB PMII yang juga merangkap anggota Sterring Committee Adien Jauharuddin mengatakan, tema besar yang akan diusung kali ini adalah “Memeratakan Pembangunan Kemaritiman demi Kejayaan 1000 Tahun Indonesia”. Diakuinya, tema ini memang tidak popular. Read the rest of this entry »

Quovadis PMII? Sebuah Renungan Muspim PMII

Posted by: ulyafawaid

PMII setelah melalui perjalanan panjang secara sadar dan insyaf menyatakan diri sebagai organisasi independen yang tidak terikat dari sikap dan tindakan kepada siapa pun dan hanya komitmen dengan perjuangan organisasi dan cita-cita perjuangan yang berlandaskan Pancasila”. Demikian salah satu butir rumusan yang tertuang dalam Deklarasi Munarjati.

Deklarasi ini telah mengawali era baru perjuangan warga pergerakan yang semula energinya dihabiskan untuk menghamba dan bergantung diri pada kepentingan politik dan kelompok tertentu. Sebagai akibatnya, praktis kerangka acuan PMII sebagaimana tertuang dalam Deklarasi Tawangmangu yang sejatinya membatinkan nilai-nilai idealisme, moralitas, dan intelektualitas terhambat untuk tidak mengatakan ‘mati’. Hasilnya PMII layaknya partai politik lebih disibukkan oleh kepentingan politik sesaat dan hasrat untuk berkuasa (will to power), sementara kaderisasi dan pemantapan konspsional cenderung diabaikan.

Read the rest of this entry »

NU Harus Siap jadi Ormas Kota

 

            Jelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-32 di Makassar 25-31 Januari 2010 mendatang, keinginan sejumlah kalangan untuk mereformasi total organisasi islam terbesar di Indonesia itu kian menguat. Beberapa kader mudanya bahkan menginginkan agar organisasi NU berubah menjadi ormas kota, dan bukannya organisasi islam lama yang selalu diidentikkan dengan ormas desa.

            “NU selama ini tercitrakan sebagai ormas desa. Padahal sebenarnya sangat banyak kader-kader muda intelektual NU di perkotaan yang sangat potensial. Namun karena tidak ada pengkaderan yang sistematis, mereka ini akhirnya direkrut oleh organisasi Islam lainnya,” kata aktivis muda NU Ulil Abshar Abdalla saat diskusi “Resistemasi Nahdlatul Ulama” di Jakarta (6/9).

             

            Ulil yang juga pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL) ini mengatakan, factor mandegnya kaderisasi menjadi salah satu penyebab yang membuat NU selalu lekat dengan organisasi orang desa yang sulit berkembang. Sistem kaderisasi yang selama ini dijalankan NU, menurutnya, lebih bersifat natural. Padahal, sebagai organisasi besar, proses kaderisasi seharusnya dilakukan secara lebih sistematis.

            Menurutnya, saat ini NU sebenarnya memiliki banyak kader muda di universitas-universitas besar di Indonesia. Namun eksistensi mereka cenderung terabaikan. Padahal jika diorganisasi dengan baik, Ulil optimis para intelektual muda inilah yang akan menjadi eksekutif yang bakal menggerakkan tubuh NU. Dalam hal ini, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai salah satu organisasi yang banyak mengkader intelektual muda NU, menurutnya, saat ini adalah satu-satunya organisasi sayap kultural NU yang layak di apresiasi. Alasannya, dibanding badan-badan otonom NU, konsistensi PMII dalam mendedar pengetahuan aswaja di kalangan anak muda lebih real terlihat.   

 

            Senada dengan Ulil, tokoh NU di PPP Endin AJ Soefihara mengatakan, secara struktural ruh NU yang penting untuk kembali dihidupkan adalah keberadaan Dewan Syuriah. Selama dua periode kepemimpinan KH Hasyim Muzadi, menurutnya, Dewan Tanfidziah cenderung mematikan fungsi Syuriah. Akibatnya, organisasi tidak berjalan seimbang. (d.suyuthi)     

PMII Minta Blue Print Kampanye Dijabarkan

Kampanye pilpres masih akan berlangsung hingga tiga pekan kedepan. Namun hingga saat ini, pertarungan antar capres-cawapres dinilai masih belum menyentuh blue print program yang ditawarkan sebagai poin terpenting kampanye. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) mendesak agar tim sukses ketiga pasangan capres-cawapres segera mengarahkan materi kampanye pada substansi yang dibutuhkan.
“Pertarungan politik sudah semakin sengit belakangan ini. Tapi saya lihat justru hanya memposisikan rakyat sebagai penonton saja,” kata Ketua Umum PB PMII M Rodli Kaelani usai menggelar Pertemuan Nasional BEM dan Konsolidasi PC/PKC PMII di Hotel Grand Cempaka, Jakarta (10/6).
Menurutnya, saat ini segenap elemen bangsa harus mulai mengingatkan kepada para politisi bahwa agenda pemilu presiden bukanlah agenda elit saja, tetapi adalah agenda rakyat secara keseluruhan. Program-program yang ditawarkan, tidak boleh hanya berakhir sebagai perdebatan di tingkat elit, sementara masyarakat pemilih yang sesungguhnya paling membutuhkan informasi lugas seputar program nyata yang akan dilakukan, malah disuguhi bahasa-bahasa kampanye saling serang yang sulit dimengerti.
“Padahal kalau mau berkampanye efektif, inilah yang paling penting buat pijakan rakyat dalam menentukan pilihannya,” kata Rodli.
Melalui pertemuan konsolidasi kemarin, menurut aktifis asal Universitas Samratulangi Sulawesi Utara ini, elemen mahasiswa ingin menyerukan agar kampanye yang masih berlangsung tidak hanya berisi perang mulut yang tanpa isi, tetapi benar-benar serius memaparkan program berikut langkah-langkah operasionalnya mengenai apa yang menjadi tawaran program ketiga pasangan capres-cawapres.           

“Terkait blue print ini, kami sekaligus ingin menyerukan kepada semua komponen untuk mengawalnya secara kritis. Blue print bukan janji-janji kosong, tapi harus terukur dan bisa direalisasikan,” tegasnya. (di)

Antara Politik dan Hukum, Dua Sisi yang (Dibuat) Sumir

Banyak pihak khawatir, pelanggaran pemilu legislatif 2009 tidak dapat diselesaikan secara tuntas. Kekhawatiran ini semakin menguat setelah kepolisian menolak laporan mentah-mentah Bawaslu. Temuan mengenai pelanggaran hukum yang dilakukan KPU dinilai lemah. Sebab tidak ada alat bukti konkret yang menyertai laporan itu.

            Dari penolakan ini setidaknya publik dapat memberikan kesimpulan bahwa mengungkap kasus pelanggaran pemilu ternyata tidak mudah. Menemukan fakta di lapangan bisa jadi mudah. Kasus-kasus DPT, surat suara tertukar, politik uang, sudah menjadi gunjingan publik yang umum di seluruh pelosok negeri.

            Menariknya, oleh sejumlah partai politik, berbagai masalah ini kemudian diangkat tidak saja sebagai masalah hukum, tetapi juga masalah politik. Muncullah praduga yang menyebut bahwa pelanggaran yang terjadi adalah bagian dari kecurangan politik yang dilakukan oleh partai penguasa. Ada upaya-upaya sistematis untuk menggelembungkan suara partai tertentu, dan menggembosi suara partai lainnya pada saat yang sama.

            Benar atau tidak praduga politik ini, hukumlah yang akan menjawabnya. Seperti diketahui, dalam sistim hukum Indonesia, institusi kepolisian adalah piranti pertama sebelum masuk ke dua piranti berikutnya, kejaksaan, dan pengadilan.  Mampukan kepolisian. Kejaksaan, Pengadilan mengembalikan kepercayaan rakyat? Kita lihat saja. (*)

 

Dari Buku

Catatan Kecil M Alfan Alfian*

Dalam sebuah majalah mingguan terpetik perkataan dari seorang sastrawan Eropa, bahwa kalau aku punya uang, maka yang akan aku belikan pertama kali adalah buku, baru setelah itu makanan dan pakaian. Bagi sebagian besar di antara kita perkataan tersebut dianggap aneh, justru ketika buku didudukkan sebagai barang primer. Barangkali ia, sastrawan yang “kurang waras” kalau ia rela tidak makan dan berpakaian compang-camping, tapi di rumahnya dipenuhi buku.

Dalam tingkatan tertentu, walaupun tidak seekstrem itu, saya pernah mengalaminya. Bahwa dulu waktu saya kuliah saya sering memaksakan diri membeli buku. Suatu saat uang saya habis gara-gara kebiasaan itu. Saya lapar dan hanya bisa memandangi tumpukan buku-buku dan majalah-majalah yang terserak-serak di meja kamar kos saya. Tapi saya tak kekurangan akal. Saya datang ke kos teman saya dengan sepeda (bukan motor). Kos teman saya itu di Dinoyo Malang. Mungkin karena saya terlalu “Jawa”, maka sesampai di sana saya tak langsung minta makan, kecuali teman saya mengajak. Tapi, ketika hari semakin siang hingga sore dan menjelang senja, kok teman saya itu tak menawar-nawari makanan. Ternyata, hmmm teman saya itu puasa. Posisi saya jadi serba tanggung: puasa tidak, lapar iya. Padahal persoalannya sederhana saja, seandainya saya bilang saya lapar dan tolong saya dibantu makanan, maka persoalan selesai. Tapi bagaimana kalau teman saya pun juga lagi bokek?

Kebiasaan saya itu berlanjut sampai sekarang. Saya gila buku apa saja, sehingga memang itulah kekayaan saya. Suatu saat rumah saya di Jatibening kebanjiran. Ribuan buku saya tenggelam. File-file komputer saya juga hilang. Saya geleng-geleng kepala tak menyangka banjir sebesar itu. Serangan air bah itu datang pukul 10 malam ketika saya sedang di tengah jalan, sementara yang di rumah terlelap dan baru sadar setelah airnya meninggi. Ketika air surut, walaupun kemudian datang lagi, saya memandangi buku-buku saya yang terbalur lumpur tebal. Benak saya membayangkjan kisah ketika perpustakaan Islam di Baghdad diangkut buku-bukunya oleh tentara Tartar (Barbar) dari Mongol dan membuangnya ke sungai Eufrat sehingga airnya berubah menjadi hitam karena tinta-tintanya. Peradaban besar tenggelam, ketika ribuan buku hancur, dihancurkan.

Tapi kisah banjir itu seolah menampar pipi saya, maksudnya agar saya memperlakukan buku-buku saya untuk sebesar-besarnya kepentingan saya sebagai penulis. Ya, saya harus menulis buku, dan agar kelak buku-buku saya turut menghiasi rak-rak buku di perpustakaan-perpustakaan kita. Harus saya akui tidak mungkin saya membaca semua buku saya itu secara tuntas, namun cukuplah buku-buku saya itu memberi inspirasi, sebagai gudang ide. Ketika buku-buku saya hanyut maka saya sedih karena banyak ide yang hanyut pula, walaupun saya menemukan buku bagus yang saya baca ketika memungut yang penuh lumpur itu, dan saya menemukan ide baru, semangat baru.

Dan, alhamdulillah, Mei ini buku saya terbit. Judulnya “Menjadi Pemimpin Politik” (Gramedia, 2009). Referensinya lebih dari tiga rak buku. Semua buku saya memberi kontribusi, inspirasi, tak hanya garis besar atau sebagian isinya, bahkan hanya sekedar judul dan kavernya. Atau, nama besar pengarangnya.

Sungguh, tak rugi Anda membeli buku. Buku adalah jendela dunia. Buku, sebagaimana pengertian buku cetak, masih penting untuk kita miliki, walaupun zaman kita sudah sedemikian maju dimana ada bentuk buku yang nirkertas alias e-book. Kita masih enak membaca buku cetak yang kita sukai, sambil ongkang-ongkang sembari menyeruput secangkir kopi atau teh. Pertanyaan saya: berapa buku yang Anda miliki? Berapa persennya yang sempat dibaca dan setidaknya memberi inspirasi? Sudahkah buku Anda jadikan “teman hidup”? Sebagian dari kita mungkin langsung angkat tangan dan meneriakkan satu kata, “belum”….

(*M Alfan Alfian, FISIP Universitas Nasional, Jakarta)

Khawarij, Inspirator Radikalisme Islam di Indonesia

Kalau dikaji kembali ke belakang, berkembangnya kelompok-kelompok islam radikal di Indonesia sebenarnya bukan tanpa sebab. Ada runutan sejarah yang jauh hari di masa sahabat sudah mulai memperli hatkan gejala itu. Khawarij, kelompok pecahan pada era pemerintahan Abbasyiah abad 18 tidak terlalu berlebihan kalau disebut sebagai awal mula berdirinya faksi islam garis keras.
“Sahabat-sahabat mungkin sudah paham dengan tragedi fitnah menyusul wafatnya Utsman bin Afan, yang lalu diikuti dengan naiknya Sayyidina Ali ke tampuk pemerintahan,” ungkap dosen Antropologi Universitas Paramadina Arif Zamhari memmbuka diskusi, pada forum Mubahasah Bulanan di kantor PB PMII, (3/12) kemarin.
Dalam sejarahnya, jelas Arif, kaum Khawarij tak jarang melakukan berbagai bentuk terror dan kejahatan atas nama jihad fi sabilillah. Secara genetic, khawarij yang berrarti kelompok sempalan, adalah kelompok baru yang lahir pasca perpecahan yang terjadi antara dua kubu Ali dan Muawiyah.
Radikalisme kelompok Khawarij, banyak lahir mula-mula dari cara pandang mereka yang sempit tentang dunia. Semangat melaksanakan syiar Islam dilakukan dengan jalan menerjemahkan kitab suci Al-Qur’an secara literal. Akibatnya, sudut pandang yang muncul dari kelompok ini kemudian hanyalah dua warna hitam dan putih. Kejahatan dan Kebaikan. Surga dan Neraka.
Namun meski demikian, menurut Arif, masih ada beberapa hal yang patut ditiru secara positif dari kelompok Khawarij. Dalam menjalankan roda keorganisasian, mereka tidak lagi memakai sistem keturunan. Integritas moral dan kedalaman pengetahuan akan hukum-hukum Allah, lebih dijadikan sayrat utama.
Menyinggung keberadaan kelompok radikal ini, Fajar Riza Il Haq dari Ma’arif Institute mengatakan, sebenarnya tidak sulit menentukan peta siapa atau kelompok mana saja di Indonesia yang bisa dikategorikan radikal. Lebih-lebih setelah munculnya kekerasan yang semakin mengkhawatirkan belakangan ini. “Menjadi mengkhawatirkan apabila saat terjadi benturan-benturan lalu tidak bisa dimediasi oleh dialog. Ini yang perlu kita waspadai,” paparnya.
Pembabtisan atau pembenihan atas gerakan-gerakan islam radikal ini, menurut Fajar sebenarnya sudah ada lama. Beruntung pada masa orde baru, pemerintah relative keras dalam memangkas tumbuh kembangnya radikalisme agama. Dalam hal ini saya salut pada orde baru yang bisa mempertahankan identitas islam Indonesia yang damai, dan moderat. Meskipun semua identitas itu barulah sebatas imajinasi penguasa saat itu.
M Imdadun Rahmat yang kerap mendapat lebel intelektual muda NU berpendapat, menentukan identitas islam Indonesia secara ilmiah masih membutuhkan pembuktian lebih dalam lagi. Masih perlu mengkaji kalau mau mengkaitkan dengan gerakan Warman di Lampung misalnya, tentu tidak bisa dipisahkan begitu saja dengan jejaring Abdullah Sungkar yang melahirkan Jamaah Islamiyah di Indonesia. Tokoh yang disebut terakhir ini, ungkap Imdad, harus diketahui juga memiliki kaitan yang kuat dengan gerakan DI/TII di Jawa Barat. “Dan garis DI/TII ini mata rantainya banyak dan cukup panjang hingga ke Kahar Mudzakar di Sulawesi. “Lantas apa benar inspirasi sejarah satu-satunya mereka itu Khawarij?,” apa jawab pembaca? (ds)

Sama-sama Ada Pihak Hitam

Dukungan terhadap Palestina terus mengalir. Namun yang dilakukan tokoh HAM lintas budaya dan agama kemarin sedikit berbeda. Di Taman Menteng, Jakarta Pusat, puluhan tokoh menggelar mimbar doa untuk korban perang di Gaza, sekaligus doa untuk mendiang aktifis kontras Munir. Berikut wawancara Didik Suyuthi dari PB PMII dengan salah seorang pendukung acara yang juga rohaniawan katolik, Prof. Dr. Franz Magnis Suseno Sj

Disini ada dua keprihatinan, Munir yang hanya satu nyawa dan sembilan ratus lebih korban sipil di jalur Gaza. Anda melihat ada kesamaan antara keduanya?

Dua-duanya sama-sama tragedi kemanusiaan. Dalam dua kasus ini saya melihat ada pihak-pihak hitam yang bisa luput dari pertanggungjawaban. Kasus Munir contohnya lebih kongkret. Sekarang semua orang tahu ada perencana dibalik pembunuhan Munir. Dan perencana itu ada di sekitar kita. Sama persis seperti perencana pembunuh Theis (Ketua Presidium Dewan Papua Theis H Elway-red). Yang dihukum kan prajurit Kopassusnya saja. Perencananya tetap ada di sekitar kita.

Ini masalah penegakan hukum di Indonesia. Bagaimana anda melihatnya?

Ini sudah merupakan kekacauan system masyarakat. Bahwa ada orang melakukan perencanaan pembunuhan bisa bebas dan itu sudah dianggap biasa. Ini kekacauan system bermasyarakat.

Harapan anda sebagai rohaniawan?

Kita harus melakuan penegakan hukum di semua instansi. Soal keganjilan putusan pengadilan terhadap Muchdi itu juga perlu dicek di kejaksaan. Kenapa jaksanya lemah, apa karena tidak punya cukup data, atau karena hal-hal yang tidak boleh dibuka? Ini jadi pertanyaan saya.

Anda juga lebur dalam aksi keprihatinan korban perang di Gaza. Apa yang anda ketahui soal Gaza?

Yang terjadi di jalur Gaza saat ini adalah salah satu puncak masalah semenjak Israel didirikan tahun 1948 dulu. Saya melihat kondisinya saat ini ada dimensi paling mendasar yang patut menjadi keprihatinan kita bersama. Yaitu kondisi keputus asaan masyarakat Palestina yang seakaan-akan tidak bisa melihat lagi masa depan. Sisi lain Negara adikuasa pendukung Israel, AS, tidak punya kehendak untuk merubah keadaan ini. Ini yang menjadi keprihatinan kami.

Anda melihat ada konflik agama disana?

Konflik memanfaatkan agama itu logis dan sangat mungkin dilakukan dimana-mana. Tapi ini bukan konflik agama. Kami orang kristiani di Palestina juga banyak. Begini, kalau mau objektif Hamas dalam pandangan saya juga tidak bertanggungjawab terhadap rakyatnya sendiri. Hamas hanya dipenuhi nafsu untuk balas dendam pada Israel. Israel juga saya persalahkan karena mereka tidak memedulikan implikasi dari tindakan yang mereka lakukan, bukan saja terhadap darah sipil yang terus mengalir, tetapi juga terhadap kemungkinan perdamaian di kemudian hari. (ds)