Posted by admin on
December 1, 2008
Habisnya Ruang Kontestasi Ide-ide Islam Indonesia
Pengantar Mubahasah
Kian sempit rasanya tempat bagi tumbuh kembangnya khasanah keislaman di republik ini. Tak ada lagi ruang kosong buat para intelektual islam berkarya, buat para pemikir muslim mengadu sekaligus mengasah keluhuran intelektualitasnya.
Coba lihat, televisi kita, radio, dan koran-koran ibu kota. Wajah islam ditampilkan sedemikian rupa. Gus Dur yang tokoh moderat, justru selalu nampak sebagai musuh besar bagi kalangan Front Pembela Islam (FPI) dengan statemennya menantangnya, yang hendak memenjarakan pemimpin mereka Habib Rizieq. Naifnya, pada situasi ini, pemikiran-pemikiran besar neomodernisme islam Gus Dur seolah lumpuh. Ia tak sanggup lagi membuka ruang kontestasi ide-ide keislaman di Indonesia.
Sebagai gantinya dominasi kelompok AKKBB merepresentasi pembelaan atas Ahmadiyah vis-à-vis FPI menjadi tayangan publik yang cukup menarik perhatian. Tema besarnya adalah kekerasan.
Wajah islam Indonesia lainnya, baru saja publik mendapat pendidikan berharga dari trio bomber Bali. Eksekusi mati ketiganya justru pada saat yang sama membalik fakta sejadi-jadinya bahwa teroris sama dengan mujahid islam. Hebatnya, ditengah keberhasilan branding image ini, mantan salah satu pimpinan JI Abu Bakar Ba’asyir justru bergeser pendapat dengan menyatakan bahwa teror tidak dibenarkan jika dilakukan diluar medan peperangan.
Perseteruan antar kelompok islam yang kaku, yang tak lagi mencerminkan nilai-nilai dirasah Islam Indonesia ini, hemat saya, harus disudahi. Islam ala ahlusunah, Islam hanif, Islam moderat, islam transformatif, islam liberal, islam berkemajuan, darul islam, atau apalah istilah yang menjadi jargon beragam kelompok Islam di Indonesia, saya kira lebih baik kalau diberi porsi yang lebih besar pada aspek dirasah daripada siyasahnya.
Pendek kata, idealis-idealis muslim Indonesia kini tak lagi mampu berkibar. Tak ada lagi ruang hidup. Sampai-sampai sekelas Dawam Rahardjo yang konon intelektual paling revolusioner Muhammadiyah, harus rela menggadaikan identitasnya di politik praktis. Masih banyak lagi contoh lainnya. Disini saya membaca ada dua persoalan mendasar, yakni situasi demokrasi Indonesia dimana magnet politik demikian besar menarik konsentrasi publik. Sehingga dengan sendirinya menghabisi pasar pemikiran, dan menghadirkan trandmark baru Islam dalam satu isu ‘semata-mata’ perebutan kekuasaan.
Saat ini kita membutuhkan kepemimpinan intelektual Islam yang benar-benar memiliki domain kekuatan untuk mencerdaskan, mengajarkan keterbukaan. Atau tokoh-tokoh mandiri semisal teolog Islam Indonesia atau filsuf Islam Indonesia yang akan menjadi ikon ditengah-tengah kita. Bagaimana kemudian orang-orang tersebut memanfaatkan ruang-ruang intelektual untuk pengembangan gagasan-gagasan keislaman yang lebih baik di masa depan untuk kemaslahatan umat. Subjektif barangkali. Tapi saya rindu orang-orang seperti cak Nur..(Didik Suyuthi;Ketua Lembaga Kajian & Pengembangan Pemikiran PB PMII)




