Agama
- January 14, 2009
Khawarij, Inspirator Radikalisme Islam di Indonesia
Kalau dikaji kembali ke belakang, berkembangnya kelompok-kelompok islam radikal di Indonesia sebenarnya bukan tanpa sebab. Ada runutan sejarah yang jauh hari di masa sahabat sudah mulai memperli hatkan gejala itu. Khawarij, kelompok pecahan pada era pemerintahan Abbasyiah abad 18 tidak terlalu berlebihan kalau disebut sebagai awal mula berdirinya faksi islam garis keras.
“Sahabat-sahabat mungkin sudah paham dengan tragedi fitnah menyusul wafatnya Utsman bin Afan, yang lalu diikuti dengan naiknya Sayyidina Ali ke tampuk pemerintahan,” ungkap dosen Antropologi Universitas Paramadina Arif Zamhari memmbuka diskusi, pada forum Mubahasah Bulanan di kantor PB PMII, (3/12) kemarin.
Dalam sejarahnya, jelas Arif, kaum Khawarij tak jarang melakukan berbagai bentuk terror dan kejahatan atas nama jihad fi sabilillah. Secara genetic, khawarij yang berrarti kelompok sempalan, adalah kelompok baru yang lahir pasca perpecahan yang terjadi antara dua kubu Ali dan Muawiyah.
Radikalisme kelompok Khawarij, banyak lahir mula-mula dari cara pandang mereka yang sempit tentang dunia. Semangat melaksanakan syiar Islam dilakukan dengan jalan menerjemahkan kitab suci Al-Qur’an secara literal. Akibatnya, sudut pandang yang muncul dari kelompok ini kemudian hanyalah dua warna hitam dan putih. Kejahatan dan Kebaikan. Surga dan Neraka.
Namun meski demikian, menurut Arif, masih ada beberapa hal yang patut ditiru secara positif dari kelompok Khawarij. Dalam menjalankan roda keorganisasian, mereka tidak lagi memakai sistem keturunan. Integritas moral dan kedalaman pengetahuan akan hukum-hukum Allah, lebih dijadikan sayrat utama.
Menyinggung keberadaan kelompok radikal ini, Fajar Riza Il Haq dari Ma’arif Institute mengatakan, sebenarnya tidak sulit menentukan peta siapa atau kelompok mana saja di Indonesia yang bisa dikategorikan radikal. Lebih-lebih setelah munculnya kekerasan yang semakin mengkhawatirkan belakangan ini. “Menjadi mengkhawatirkan apabila saat terjadi benturan-benturan lalu tidak bisa dimediasi oleh dialog. Ini yang perlu kita waspadai,” paparnya.
Pembabtisan atau pembenihan atas gerakan-gerakan islam radikal ini, menurut Fajar sebenarnya sudah ada lama. Beruntung pada masa orde baru, pemerintah relative keras dalam memangkas tumbuh kembangnya radikalisme agama. Dalam hal ini saya salut pada orde baru yang bisa mempertahankan identitas islam Indonesia yang damai, dan moderat. Meskipun semua identitas itu barulah sebatas imajinasi penguasa saat itu.
M Imdadun Rahmat yang kerap mendapat lebel intelektual muda NU berpendapat, menentukan identitas islam Indonesia secara ilmiah masih membutuhkan pembuktian lebih dalam lagi. Masih perlu mengkaji kalau mau mengkaitkan dengan gerakan Warman di Lampung misalnya, tentu tidak bisa dipisahkan begitu saja dengan jejaring Abdullah Sungkar yang melahirkan Jamaah Islamiyah di Indonesia. Tokoh yang disebut terakhir ini, ungkap Imdad, harus diketahui juga memiliki kaitan yang kuat dengan gerakan DI/TII di Jawa Barat. “Dan garis DI/TII ini mata rantainya banyak dan cukup panjang hingga ke Kahar Mudzakar di Sulawesi. “Lantas apa benar inspirasi sejarah satu-satunya mereka itu Khawarij?,” apa jawab pembaca? (ds)




