Sama-sama Ada Pihak Hitam

Dukungan terhadap Palestina terus mengalir. Namun yang dilakukan tokoh HAM lintas budaya dan agama kemarin sedikit berbeda. Di Taman Menteng, Jakarta Pusat, puluhan tokoh menggelar mimbar doa untuk korban perang di Gaza, sekaligus doa untuk mendiang aktifis kontras Munir. Berikut wawancara Didik Suyuthi dari PB PMII dengan salah seorang pendukung acara yang juga rohaniawan katolik, Prof. Dr. Franz Magnis Suseno Sj

Disini ada dua keprihatinan, Munir yang hanya satu nyawa dan sembilan ratus lebih korban sipil di jalur Gaza. Anda melihat ada kesamaan antara keduanya?

Dua-duanya sama-sama tragedi kemanusiaan. Dalam dua kasus ini saya melihat ada pihak-pihak hitam yang bisa luput dari pertanggungjawaban. Kasus Munir contohnya lebih kongkret. Sekarang semua orang tahu ada perencana dibalik pembunuhan Munir. Dan perencana itu ada di sekitar kita. Sama persis seperti perencana pembunuh Theis (Ketua Presidium Dewan Papua Theis H Elway-red). Yang dihukum kan prajurit Kopassusnya saja. Perencananya tetap ada di sekitar kita.

Ini masalah penegakan hukum di Indonesia. Bagaimana anda melihatnya?

Ini sudah merupakan kekacauan system masyarakat. Bahwa ada orang melakukan perencanaan pembunuhan bisa bebas dan itu sudah dianggap biasa. Ini kekacauan system bermasyarakat.

Harapan anda sebagai rohaniawan?

Kita harus melakuan penegakan hukum di semua instansi. Soal keganjilan putusan pengadilan terhadap Muchdi itu juga perlu dicek di kejaksaan. Kenapa jaksanya lemah, apa karena tidak punya cukup data, atau karena hal-hal yang tidak boleh dibuka? Ini jadi pertanyaan saya.

Anda juga lebur dalam aksi keprihatinan korban perang di Gaza. Apa yang anda ketahui soal Gaza?

Yang terjadi di jalur Gaza saat ini adalah salah satu puncak masalah semenjak Israel didirikan tahun 1948 dulu. Saya melihat kondisinya saat ini ada dimensi paling mendasar yang patut menjadi keprihatinan kita bersama. Yaitu kondisi keputus asaan masyarakat Palestina yang seakaan-akan tidak bisa melihat lagi masa depan. Sisi lain Negara adikuasa pendukung Israel, AS, tidak punya kehendak untuk merubah keadaan ini. Ini yang menjadi keprihatinan kami.

Anda melihat ada konflik agama disana?

Konflik memanfaatkan agama itu logis dan sangat mungkin dilakukan dimana-mana. Tapi ini bukan konflik agama. Kami orang kristiani di Palestina juga banyak. Begini, kalau mau objektif Hamas dalam pandangan saya juga tidak bertanggungjawab terhadap rakyatnya sendiri. Hamas hanya dipenuhi nafsu untuk balas dendam pada Israel. Israel juga saya persalahkan karena mereka tidak memedulikan implikasi dari tindakan yang mereka lakukan, bukan saja terhadap darah sipil yang terus mengalir, tetapi juga terhadap kemungkinan perdamaian di kemudian hari. (ds)

Post a Comment