Kajian
- September 6, 2009
NU Harus Siap jadi Ormas Kota
Jelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-32 di Makassar 25-31 Januari 2010 mendatang, keinginan sejumlah kalangan untuk mereformasi total organisasi islam terbesar di Indonesia itu kian menguat. Beberapa kader mudanya bahkan menginginkan agar organisasi NU berubah menjadi ormas kota, dan bukannya organisasi islam lama yang selalu diidentikkan dengan ormas desa.
“NU selama ini tercitrakan sebagai ormas desa. Padahal sebenarnya sangat banyak kader-kader muda intelektual NU di perkotaan yang sangat potensial. Namun karena tidak ada pengkaderan yang sistematis, mereka ini akhirnya direkrut oleh organisasi Islam lainnya,” kata aktivis muda NU Ulil Abshar Abdalla saat diskusi “Resistemasi Nahdlatul Ulama” di Jakarta (6/9).
Ulil yang juga pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL) ini mengatakan, factor mandegnya kaderisasi menjadi salah satu penyebab yang membuat NU selalu lekat dengan organisasi orang desa yang sulit berkembang. Sistem kaderisasi yang selama ini dijalankan NU, menurutnya, lebih bersifat natural. Padahal, sebagai organisasi besar, proses kaderisasi seharusnya dilakukan secara lebih sistematis.
Menurutnya, saat ini NU sebenarnya memiliki banyak kader muda di universitas-universitas besar di Indonesia. Namun eksistensi mereka cenderung terabaikan. Padahal jika diorganisasi dengan baik, Ulil optimis para intelektual muda inilah yang akan menjadi eksekutif yang bakal menggerakkan tubuh NU. Dalam hal ini, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai salah satu organisasi yang banyak mengkader intelektual muda NU, menurutnya, saat ini adalah satu-satunya organisasi sayap kultural NU yang layak di apresiasi. Alasannya, dibanding badan-badan otonom NU, konsistensi PMII dalam mendedar pengetahuan aswaja di kalangan anak muda lebih real terlihat.
Senada dengan Ulil, tokoh NU di PPP Endin AJ Soefihara mengatakan, secara struktural ruh NU yang penting untuk kembali dihidupkan adalah keberadaan Dewan Syuriah. Selama dua periode kepemimpinan KH Hasyim Muzadi, menurutnya, Dewan Tanfidziah cenderung mematikan fungsi Syuriah. Akibatnya, organisasi tidak berjalan seimbang. (d.suyuthi)




