Posted by admin on
December 15, 2009
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –> ”Proses pembangunan harus senantiasa proporsional antara di wilayah laut dan daratan,”. Pesan Gubernur Sulawesi Utara Drs SH Sarundajang kepada peserta Muspimnas PMII, Kamis, 10 Desember 2009.
Posted by admin on
September 6, 2009
NU Harus Siap jadi Ormas Kota
Jelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-32 di Makassar 25-31 Januari 2010 mendatang, keinginan sejumlah kalangan untuk mereformasi total organisasi islam terbesar di Indonesia itu kian menguat. Beberapa kader mudanya bahkan menginginkan agar organisasi NU berubah menjadi ormas kota, dan bukannya organisasi islam lama yang selalu diidentikkan dengan ormas desa.
“NU selama ini tercitrakan sebagai ormas desa. Padahal sebenarnya sangat banyak kader-kader muda intelektual NU di perkotaan yang sangat potensial. Namun karena tidak ada pengkaderan yang sistematis, mereka ini akhirnya direkrut oleh organisasi Islam lainnya,” kata aktivis muda NU Ulil Abshar Abdalla saat diskusi “Resistemasi Nahdlatul Ulama” di Jakarta (6/9).
Ulil yang juga pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL) ini mengatakan, factor mandegnya kaderisasi menjadi salah satu penyebab yang membuat NU selalu lekat dengan organisasi orang desa yang sulit berkembang. Sistem kaderisasi yang selama ini dijalankan NU, menurutnya, lebih bersifat natural. Padahal, sebagai organisasi besar, proses kaderisasi seharusnya dilakukan secara lebih sistematis.
Menurutnya, saat ini NU sebenarnya memiliki banyak kader muda di universitas-universitas besar di Indonesia. Namun eksistensi mereka cenderung terabaikan. Padahal jika diorganisasi dengan baik, Ulil optimis para intelektual muda inilah yang akan menjadi eksekutif yang bakal menggerakkan tubuh NU. Dalam hal ini, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai salah satu organisasi yang banyak mengkader intelektual muda NU, menurutnya, saat ini adalah satu-satunya organisasi sayap kultural NU yang layak di apresiasi. Alasannya, dibanding badan-badan otonom NU, konsistensi PMII dalam mendedar pengetahuan aswaja di kalangan anak muda lebih real terlihat.
Senada dengan Ulil, tokoh NU di PPP Endin AJ Soefihara mengatakan, secara struktural ruh NU yang penting untuk kembali dihidupkan adalah keberadaan Dewan Syuriah. Selama dua periode kepemimpinan KH Hasyim Muzadi, menurutnya, Dewan Tanfidziah cenderung mematikan fungsi Syuriah. Akibatnya, organisasi tidak berjalan seimbang. (d.suyuthi)
Posted by admin on
November 3, 2008
KNPI Gelar Kongres Mulai 28 Oktober
sumber (GP-Ansor): Sekretaris Jenderal Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Munawar Fuad menegaskan bahwa KNPI tidak pecah, bahkan organisasi tempat berhimpunnya sekitar 80 organisasi kepemudaan (OKP) itu sepakat menggelar Kongres Pemuda ke-XII pada 28 Oktober hingga 2 November mendatang di Bali.
“Tidak benar KNPI pecah, yang ada hanya serpihan. Tidak benar KNPI retak dan mau bubar. Perbedaan pendapat adalah hal biasa dalam suatu demokrasi terbuka, silakan orang bicara. Ini proses yang sedang berjalan,” kata Munawar Fuad di Jakarta, Jumat.
Menurut mantan Sekjen PP GP Ansor ini, keputusan menggelar Kongres KNPI di Bali merupakan keputusan DPP KNPI untuk mengembalikan “khittah” Kongres pada momentum kebangkitan pemuda (Hari Sumpah Pemuda) 28 Oktober.
Rencananya, Kongres Pemuda ke-XII di Bali yang akan diikuti sekitar 1.500 peserta itu akan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan akan ditutup Wapres Jusuf Kalla.
Kongres itu, katanya, disebut konstitusional dan “legitimate” karena sudah didukung 90 persen OKP yang berhimpun dalam wadah KNPI, serta didukung oleh 28 DPD KNPI se-Indonesia dalam pertemuan komunikasi beberapa waktu lalu di Banten.
Munawar Fuad yang bersama pelaksana tugas (plt) Ketua Umum Hans Silalahi menjadi penanggung jawab Kongres juga mengaku telah mendapat dukungan dari sepuluh menteri Kabinet Indonesia Bersatu untuk menyelenggarakan acara tersebut.
“Panglima TNI juga akan menerima kami (panitia Kongres) dan pihak kepolisian juga menyatakan hanya memberi izin pada kongres yang kami laksanakan ini,” tegasnya.
Karena itu, lanjutnya, jika ada pihak yang ingin menyelenggarakan Kongres Pemuda pada 25-28 Oktober 2008, kemungkinan tidak akan terjadi karena Presiden Yudhoyono pada saat yang sama menurut jadwal masih berada di China.
“Kita mohon doa restu dan dukungan pemuda Indonesia untuk menjadikan Kongres sebagai momentum bersatunya pemuda, dengan tema ‘Pemuda Indonesia Bangkit Bersatu’,” katanya.




